Selamat Datang di Blog HMJ Sosiologi FISIP Universitas Lampung

Selasa, 17 Desember 2013

Tenaga Kerja Indonesia vs Pasar Bebas Asean 2015 Hingar-bingar masalah politik dan ketenagakerjaan beberapa bulan ini seolah melupakan isu terpenting yang akan dihadapi bangsa ini. Isu itu tak lain penerapan Masyarakat Ekonomi Asean atau Asean Economic Community (AEC) 2015 mendatang. Dalam pasar bebas negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) pada akhir 2015 itu, bea masuk barang dan jasa akan dihapus.

Selain membanjirnya arus lalu lintas produk dari negara ASEAN, salah satu hal krusial adalah soal tenaga kerja. Kelak, tenaga kerja terampil dari negara ASEAN akan menyerbu pasar kerja di Tanah Air. Melihat kondisi SDM pekerja di dalam negeri kini, sudah siapkah kita?

Ternyata kesiapan itu masih jauh dari harapan. Peringatan ini diungkap Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Senin lalu (11/11). Organisasi ini mengungkap Indonesia minim tenaga kerja terdidik untuk bersaing di tingkat regional. Misalnya, Indonesia hanya punya 164 orang insinyur per satu juta penduduk. Sementara jumlah insinyur di Malaysia mencapai 50 persen alias separo dari total penduduk!

Kekhawatiran serupa diungkap Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Arief Yahya. Saat pasar bebas ASEAN ini diterapkan, ia memperkirakan ribuan tenaga kerja asal Filipina akan menyerbu pasar kerja di dalam negeri. Ia mengakui, bahasa Inggris pekerja asal Filipina lebih bagus dari pekerja Indonesia, dan biaya upahnya pun relatif lebih murah.

Di tengah pesimisme itu, pemerintah pusat melalui Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa kerap menggaungkan kalau Indonesia berdaya saing. Memang, jika merujuk survei Forum Ekonomi Dunia (WEF) awal September lalu, daya saing negara kita tahun ini naik ke posisi 38 dari peringkat 50 tahun lalu. Namun, tetap saja posisi Indonesia masih di bawah beberapa negara ASEAN seperti Thailand di posisi 37, Brunei Darussalam posisi 26 dan Malaysia ke-24. Bahkan Singapura bertahan di posisi dua.

Namun, kondisinya kini di dalam negeri, pengusaha dan buruh terus berkonflik pada masalah klasik yaitu upah. Bahkan, di Ibu Kota Jakarta, para buruh mengancam akan menutup kawasan sentra ekonomi seperti Pelabuhan Tanjung Priok. Kita tahu hal itu, selain membuat anjlok produktivitas juga merusak iklim investasi.

Tak bisa dipungkiri, tingkat persaingan di dunia kerja akan semakin ketat di era Pasar Bebas ASEAN. Jika kita tidak serius mempersiapkan diri, siap-siap saja kita hanya jadi pecundang di negeri sendiri. Pemerintah pusat, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan harus "memeras otak" untuk meningkatkan kualitas SDM dan jumlah tenaga terampil. Misalnya, dengan mengintensifkan kerja sama pendidikan dan ketenagakerjaan dengan negara-negara di ASEAN yang memiliki daya saing di atas negara kita.

Klaim pengusaha bahwa defisit tenaga terampil di negara kita sudah berlangsung 10 tahun ini harus segera diakhiri! Dari situlah baru optimisme kita untuk bisa bersaing dengan negara ASEAN dalam pasar bebas bisa muncul.

Sumber :

http://www.portalkbr.com/opini/editorial/3019591_4307.html

Senin, 11 November 2013

Manfaat Organisasi bagi Mahasiswa

Posted by Unknown On 21.06 No comments
Manfaat Organisasi bagi Mahasiswa

Fungsi Sosiologi dan Peran Sosiolog di Tengah Masyarakat - Masyarakat yang terdiri atas manusia yang berkelompok dan saling berinteraksi satu sama lain, mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan manusia sebagai mahluk yang berakal dan berbudaya. Dengan demikian masyarakat tidak bersifat statis tetapi senantiasa dinamis. Perkembangan setiap masyarakat berbeda-beda.

Fungsi Sosiologi
Contoh perbedaan kondisi masyarakat yang paling unik di Indonesia, yaitu di Indonesia terdapat masyarakat yang sudah mengalami kehidupan moderen dan ilmu pengetahuan yang sudah maju, namun juga masih terdapat masyarakat yang primitif yaitu masyarakat yang belum mengenal ilmu pengetahuan teknologi.

Selain terdapat perbedaan masyarakat moderen dengan masyarakat primitif, perbedaan masyarakat juga dapat dilihat dari sudut pandang geografis yaitu adanya perbedaan masyarakat kota dengan masyarakat desa. Perbedaan masyarakat dari sudut pandang matapencaharian yaitu masyarakat industri dan masyarakat pertanian.

Setiap masyarakat akan berusaha untuk mempertahankan identitas budayanya. Apabila terjadi proses perubahan budaya yang tidak sesuai dengan identitas budaya dan sosialnya maka akan menimbulkan masalah sosial. Masyarakat memiliki ciri khas, sistem, adat istiadat, norma yang berbeda-beda dan kompleks. Dengan demikiam masalah sosial yang setiap masyarakat berbeda-beda pula. Masalah sosial adalah adanya ketidaksesuaian unsur-unsur yang ada dalam mesyarakat.

Sebagai contoh masalah-masalah sosial yang terdapat di masyarakat adalah: kemiskinan (masyarakat yang miskin ilmu, miskin pengetahuan, miskin keterampilan, miskin pekerjaan), kejahatan, prilaku menyimpang, masalah kependudukan, masalah pelanggaran nilai dan norma masyarakat Apabila setiap masalah sosial yang terjadi di masyarakat tidak dapat diselesaikan maka akan mengancam keutuhan masyarakat tersebut yang pada akhirnya akan mengancam kepentingan bangsa dan negara. Masalah sosial akan menimbulkan konflik dan ketidakteraturan sosial.

Dalam negara yang sedang membangun sosiologi bermanfaat untuk kepentingan pembangunan negara. Proses pembangunan negara ditujukan untuk memberikan kesejahteraan lahir dan batin masyarakat, menjaga keutuhan atau integrasi bangsa. Penelitian sosiologi memberikan bantuan kepada masyarakat dalam memecahkan masalah-masa-lah sosial sebagai metode-metode prevenetif dan metode represif.

Era Globalisasi di abad 20 memberikan dampak yang luas pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Revolusi dan inovasi para ahli/ilmuwan di berbagai bidang ilmu menyebabkan perubahan sosial yang luar biasa di masyarakat, yaitu perubahan sosial ekonomi, perubahan sosial budaya, perubahan sosial religius dan perubahan sosial politik. Masyarakat yang tidak siap menerima perubahan sosial tersebut akan mengalami disorganisasi sosial. 

Oleh karena itu sosiologi diharapkan dapat mengamati dan membantu menyelesaikan setiap masalah-masalah sosial mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan oleh Pancasila dan UUD 1945. Sosiologi dapat membantu proses pembangunan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dengan menjaga identitas sosial dan budayanya yang luhur dan menjadi kebanggaan di depan mata dunia.

Para peneliti masyarakat atau ahli sosilogi memiliki peranan dalam masyarakat, diantaranya adalah :
a. Sosiolog sebagai ahli riset
b. Sosiolog sebagai konsultan kebijakan
c. Sosiolog sebagai teknisi
d. Sosiolog sebagai pendidik
 
 
 
sumber :  http://www.sibarasok.com

Tokoh Sosiologi Indonesia

Posted by Unknown On 09.18 No comments
Tokoh Sosiologi Indonesia | Dalam sejarah perkembangan Sosiologi di Indonesia, ada banyak nama sosiolog yang pendapat dan sumbangsihnya sangat besar, tidak hanya untuk pengembangan sosiologi sebagai ilmu, namun juga pendapat dan kritik yang acap kali mengingatkan pemerintah dan rakyat Indonesia untuk menjaga jalan republik ini. Beberapa nama tokoh sosiolog Indonesia itu antara lain: Prof. Dr. Selo Soemardjan, Prof. Dr. Paulus Wiroutomo, Arief Budiman, Mochtar Naim, dan Prof. Dr. Ir, Sajogyo. Tentu masih banyak sosiolog lain, seperti Imam Prasodjo dan George Junus Aditjondro.
Kita lihat profil singkat dan kiprah para tokoh Sosiologi Indonesia berikut ini:
1. Prof. Dr. Selo Soemardjan

Selasa, 15 Oktober 2013

Budaya Jam Karet

Posted by Unknown On 10.21 No comments


JAM karet, begitulah sebuah ungkapan yang  menggambarkan suatu keadaan molornya sebuah agenda  yang sudah ditentukan semestinya. Hal ini sudah biasa dan bahkan sering kita alami. Budaya jam karet memang bukanlah hal baru, seakan sudah mengakar dan menjadi budaya di masyarakat kita.

Jika ditinjau dari sudut etika, seseorang yang membiasakan jam karet adalah orang yang mementingkan kepentingan sendiri, ada benturan antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum.

Orang yang berperilaku jam karet merasa harus menyelesaikan urusannya dahulu baru memikirkan urusan lainnya yang bersifat umum. Perilaku ini juga erat kaitannya dengan tingkat kedisiplinan seseorang, kesadaran akan pentingnya komitmen yang telah dibuat dan sikap penghargaan atas waktu yang terus berjalan dan tidak akan tergantikan. Kebiasaan jam karet memberikan dampak negatif yang lebih besar jika terus dilakukan. Kelihatannya sepele, tapi bila sering dilakukan dan menjadi kebiasaan, akan sulit untuk mengubahnya.

Suka menunda adalah penyebab uta­ma dari budaya jam karet. Tak dimungkiri, banyak orang yang memiliki kebiasaan menunda. Menunda datang ke acara, atau kegiatan tertentu karena merasa buat apa datang tepat waktu, toh akhirnya acaranya pasti molor. Anggapan tersebut memang terjadi karena kesalahan dari kita tidak membiasakan tepat waktu.  Membiasakan disiplin waktu sangat berpengaruh positif dalam kegiatan sehari-hari sehingga se­mua dapat terkendalikan. Dengan mengu­bah kebiasaan jam karet dan mendisiplinkan diri akan mudah untuk menuju ke­suksesan.

Konsekuensi Kuliah Sambil Kerja

Posted by Unknown On 10.16 No comments


Biaya pendidikan yang kian melambung membuat sebagian orang tua ataupun mahasiswa tak mampu lagi menjangkau. Tak ayal, sebagian mahasiswa mulai memutar otak untuk mencari pekerjaan sampingan agar tetap bisa kuliah.

Dan yang terpenting, mereka bisa melepaskan diri dari ketergantungan kepada orang tua, alias mandiri. Jenis pekerjaan sampingan (freelance) pilihan mahasiswa itu pun beragam. Misalnya, dengan menjadi karyawan freelance, berbisnis kecil-kecilan, atau mengajar privat.

Kuliah sambil kerja merupakan pilihan. Itu dilakoni sebagian mahasiswa dengan beragam alasan. Sebagian beranggapan, bekerja menjadi sebuah kebutuhan. Karena tanpa bekerja, mereka tak bisa melanjutkan kuliah lantaran desakan ekonomi. Di samping itu, bekerja juga untuk menopang kebutuhan sehari-hari mahasiswa di luar kuliah.

Ada juga mahasiswa yang bekerja sekadar untuk mengisi waktu luang, lantaran banyak waktu di luar kuliah yang kosong. Mahasiswa tipe ini biasanya bekerja sekadar untuk menambah uang saku, sebab kebutuhan inti kuliah sudah tercukupi. Dengan bekerja, ia akan lebih leluasa menggunakan uang karena mendapatkan penghasilan ganda, baik dari orang tua maupun dari hasil bekerja.

Di sisi lain, ada yang bekerja bukan semata-mata untu tujuan komersial, melainkan untuk menunjang perkuliahan serta meningkatkan keahliannya. Biasanya, pekerjaan yang diambil linier dengan bidang atau jurusan yang diambil. Misalnya, mahasiswa jurusan pendidikan atau keguruan yang memilih mengajar privat sebagai pekerjaan sambilan.

Dengan mengajar, ia dapat mengaplikasikan teori yang diperoleh di bangku perkuliahan dan mengasah keahliannya.
Kuliah sambil kerja, di satu sisi bisa dijadikan ajang untuk melatih kemandirian dan sebagai langkah persiapan diri sebelum terjun ke masyarakat. Ibarat sambil menyelam minum air, di samping menjalankan tugas akademik, mahasiswa berlatih untuk mandiri dan tidak bergantung dengan kiriman orang tua.

Konsekuen

Yang perlu digarisbawahi, jika kuliah sambil kerja tidak disikapi secara bijaksana, justru akan menjadi bumerang bagi mahasiswa itu sendiri. Alih-alih melatih kemandirian, aktivitas akademik malah terganggu dan berantakan. Mahasiswa harus menyadari risiko kuliah sambil kerja. Yang jelas, waktu mahasiswa menjadi berkurang karena tersita untuk bekerja.

Jika diukur dari jadwal formal kuliah mahasiswa, memang mahasiswa memiliki banyak waktu luang. Sebab dalam sehari mahasiswa hanya menghabiskan dua sampai tiga jam kuliah di kelas. Namun perlu disadari, aktivitas akademik tidak melulu dilakukan saat jam perkuliahan atau di dalam kelas. Waktu luang bisa dimanfaatkan untuk belajar dan berbagai aktivitas lain yang bisa menunjang akademik. Misalnya, kegiatan berorganisasi.

Kuliah sambil kerja bisa mengurangi waktu luang mahasiswa yang sebenarnya bisa dimanfaatkan dan diisi dengan kegiatan-kegiatan akademik lain yang bisa menunjang kapabilitas dan integritas mahasiswa. Ruang gerak menjadi berkurang sebab usai kuliah mereka harus menunaikan pekerjaannya, sehingga tak ada waktu lagi untuk melakukan interaksi sosial dan mengembangkan soft skill,  hal yang juga sangat berguna bagi masa depan mahasiswa.

Efeknya, misalnya, berbagai organisasi kampus seperti, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) menjadi sepi karena mahasiswa lebih memilih mengisi kegiatan yang pragmatis atau bisa menghasilkan uang ketimbang berorganisasi. Padahal berorganisasi juga penting, di samping untuk mengisi waktu luang, juga untuk mengasah bakat dan minat sebagai bekal di masa depan.

Konsentrasi kuliah pun menjadi terganggu. Karena mahasiswa harus memikirkan beban ganda antara kuliah dan pekerjaan. Sosialisasi dengan rekan sejawat atau dosen di luar jam kuliah pun berkurang. Waktu luang yang bisa digunakan untuk berkumpul, berdiskusi, atau bertukar gagasan tentang kajian atau masalah sosial pun menjadi minim. Padahal semua itu turut membantu membangun kapasitas dan kepribadian mahasiswa.

Kuliah sambil bekerja memang sebuah pilihan. Namun, perlu juga dipikirkan konsekuensinya. Bahwa, dengan memilih bekerja ia dituntut mampu mengelola waktu dengan baik. Dengan demikian, aktivitas akademik di luar perkuliahan, seperti belajar, membaca dan berorganisasi, tidak terlupakan. Bagaimanapun, masa kuliah adalah masa yang paling efektif untuk menimba ilmu dan pengalaman semaksimal mungkin sebagai bekal masa depan. (24)

—Irma Muflikhah, mahasiswa Tadris Matematika IAIN Walisongo.

Minggu, 13 Oktober 2013

Antara Buku dan Facebook

Posted by Unknown On 10.44 No comments
 
FENOMENA di lingkungan kampus menggambarkan bahwa kesadaran mahasiswa membaca buku mulai luntur. Ini bisa dilihat berbagai kesibukan yang dilakukan  mahasiswa saat ini. Mereka lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk facebookan daripada menghabiskan waktu untuk membaca buku.

Lihat saja banyak di antara mereka yang saat ini lebih senang membawa laptop atau notebook ketika berangkat ke kampus, hanya sekadar untuk membuka facebook ketimbang membawa buku untuk dibaca. Ini dikarenakan banyak di sekitar kampus, baik kampus negeri maupun kampus swasta terdapat area hotspot, sehingga bisa mempermudah mahasiswa untuk membuka internet dengan gratis.

Facebook adalah sebuah layanan jejaring sosial yang bisa menghunbungkan orang di mana pun berada. Dengan facebook, seseorang bisa mencari teman sebanyak-banyaknya atau menulis status, mengomentari status,  bahkan melihat profil lengkap seseorang beserta fotonya.

Perlu Kesadaran Diri
Kelunturan kesadaran membaca buku bagi mahasiswa memang sudah banyak mendapat kritikan. Banyak dosen mengatakan, rata-rata pengetahuan mahasiswa sangat minim ketika menyampaikan paparan suatu materi. Hal ini dikarenakan kurangnya mahasiswa membaca buku.

Menurut saya, ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor :
Pertama, mahasiswa cenderung bersikap malas untuk membaca buku dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Kedua, mahasiswa lebih senang mengunjungi taman untuk nongkrong atau facebookan ketimbang mengunjungi perpustakaan.

Untuk mengatasi masalah ini, pertama perlu pembenahan sikap diri mahasiswa. Sikap malas haruslah dibuang jauh-jauh supaya tidak menjadi penyakit. Motivasi sangat diperlukan, baik motivasi internal maupun eksternal. Motivasi internal seperti halnya memotivasi diri sendiri untuk berubah menjadi lebih baik. Sementara motivasi eksternal bisa datang dari dosen, senior, teman dan lainnya. Dengan motivasi itu, mahasiswa akan merasa senang ketika membaca buku, dan akan menjadikan buku sebagai teman dekatnya ketimbang menghabiskan waktu hanya untuk facebookan dalam aktivitasnya sehari-hari di kampus.

Dr Aidh bin Abdullah Al-Qarni, dalam bukunya La Tahzan mengungkapkan tentang manfaat membaca buku. Pertama, dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya, baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam kehidupan. Kedua, dengan membaca dapat membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia

Sumber : suaramerdeka.com

Kuliah YES, Organisasi OKE !

Posted by Unknown On 10.20 1 comment
Kampus merupakan tempat bagi para mahasiswa mencari ilmu, mengembangkan diri, baik di bidang akademik maupun organisasi. Namun tak jarang banyak mahasiswa yang kurang mampu menyeimbangkan dan membagi waktu antara kegiatan organisasi dengan kuliah. 

Mereka yang lebih asyik menjadi aktivis dari sebuah organisasi acap kali menomorduakan kuliah. Sementara mereka yang bukan aktivis kurang peduli dengan berbagai macam kegiatan di luar jam kuliah. Banyak mahasiswa yang mendapatkan nilai indeks prestasi (IP) pas-pasan bahkan jelek karena alasan menjadi aktivis organisasi. Para aktivis kadang beranggapan bahwa kuliah tidak boleh mengganggu organisasi, sehingga kuliah mereka keteteran. Sementara bagi mereka yang fokus hanya pada kuliah, nilai IP mereka aman-aman saja dan memuaskan. Walaupun tidak semuanya seperti itu, ada juga aktivis yang mampu meraih IP tinggi dan merekalah yang mampu membagi waktu antara kuliah dan organisasi.

Sebagai seorang  mahasiswa, tentu tujuan utama kuliah  adalah kuliah itu sendiri dengan mengembangkan diri  di bidang akademik (baca: akademikus)  walau  tak dapat dimungkiri bahwa berorganisasi (baca: aktivis) juga sama pentingnya. Bahkan dengan menjadi seorang aktivis, banyak pengalaman dan kamatangan yang akan kita peroleh. Jika mahasiswa hanya bergulat dalam dunia akademik saja yaitu kuliah, kuliah, dan kuliah, tanpa mengembangkan jiwa kepemimpinan, maka akan terjadi ketimpangan kelak saat para mahasiswa berbaur dengan masyarakat. Mereka akan gagap menghadapi peristiwa sosial yang terjadi di sekitarnya, karena tidak pernah merasakan kehidupan sebagai seorang aktivis yang lebih sering berbaur dengan lingkungan sekitar. Begitu juga sebaliknya, bagaimana mungkin akan disebut seorang aktivis jika kualitas intelektualnya nol? 

Maka anggapan bahwa organisasi lebih penting dari kuliah maupun sebaliknya harus diminimalisasi, bahkan dihapus karena  saling melengkapi dan sama-sama memiliki peran penting bagi para mahasiswa. Harus ditumbuhkan sikap bahwa walau berorganisasi dan menjadi aktivis itu sangat berguna, tapi jangan lupa akan tujuan utama, yaitu kuliah. Jika ada pepatah berkata ’’ilmu tanpa agama adalah buta dan agama tanpa ilmu adalah pincang’’, maka dapat dianalogikan bahwa ’’organisasi tanpa kuliah adalah buta dan kuliah tanpa organisasi adalah pincang’’
.
Sumber : suaramerdeka.com
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus
  • Youtube