
Hingar-bingar masalah politik dan ketenagakerjaan beberapa bulan ini
seolah melupakan isu terpenting yang akan dihadapi bangsa ini. Isu itu
tak lain penerapan Masyarakat Ekonomi Asean atau Asean Economic
Community (AEC) 2015 mendatang. Dalam pasar bebas
negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) pada akhir 2015 itu, bea masuk barang dan jasa akan dihapus.
Selain membanjirnya arus lalu lintas produk dari negara ASEAN, salah
satu hal krusial adalah soal tenaga kerja. Kelak, tenaga kerja terampil
dari negara ASEAN akan menyerbu pasar kerja di Tanah Air. Melihat
kondisi SDM pekerja di dalam negeri kini, sudah siapkah kita?
Ternyata kesiapan itu masih jauh dari harapan. Peringatan ini diungkap
Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Senin lalu (11/11). Organisasi ini
mengungkap Indonesia minim tenaga kerja terdidik untuk bersaing di
tingkat regional. Misalnya, Indonesia hanya punya 164 orang insinyur per
satu juta penduduk. Sementara jumlah insinyur di Malaysia mencapai 50
persen alias separo dari total penduduk!
Kekhawatiran serupa
diungkap Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Arief Yahya. Saat pasar
bebas ASEAN ini diterapkan, ia memperkirakan ribuan tenaga kerja asal
Filipina akan menyerbu pasar kerja di dalam negeri. Ia mengakui, bahasa
Inggris pekerja asal Filipina lebih bagus dari pekerja Indonesia, dan
biaya upahnya pun relatif lebih murah.
Di tengah pesimisme itu,
pemerintah pusat melalui Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa
kerap menggaungkan kalau Indonesia berdaya saing. Memang, jika merujuk
survei Forum Ekonomi Dunia (WEF) awal September lalu, daya saing negara
kita tahun ini naik ke posisi 38 dari peringkat 50 tahun lalu. Namun,
tetap saja posisi Indonesia masih di bawah beberapa negara ASEAN seperti
Thailand di posisi 37, Brunei Darussalam posisi 26 dan Malaysia ke-24.
Bahkan Singapura bertahan di posisi dua.
Namun, kondisinya kini
di dalam negeri, pengusaha dan buruh terus berkonflik pada masalah
klasik yaitu upah. Bahkan, di Ibu Kota Jakarta, para buruh mengancam
akan menutup kawasan sentra ekonomi seperti Pelabuhan Tanjung Priok.
Kita tahu hal itu, selain membuat anjlok produktivitas juga merusak
iklim investasi.
Tak bisa dipungkiri, tingkat persaingan di
dunia kerja akan semakin ketat di era Pasar Bebas ASEAN. Jika kita tidak
serius mempersiapkan diri, siap-siap saja kita hanya jadi pecundang di
negeri sendiri. Pemerintah pusat, pemerintah daerah dan seluruh pemangku
kepentingan harus "memeras otak" untuk meningkatkan kualitas SDM dan
jumlah tenaga terampil. Misalnya, dengan mengintensifkan kerja sama
pendidikan dan ketenagakerjaan dengan negara-negara di ASEAN yang
memiliki daya saing di atas negara kita.
Klaim pengusaha bahwa
defisit tenaga terampil di negara kita sudah berlangsung 10 tahun ini
harus segera diakhiri! Dari situlah baru optimisme kita untuk bisa
bersaing dengan negara ASEAN dalam pasar bebas bisa muncul.
Sumber :
http://www.portalkbr.com/opini/editorial/3019591_4307.html