Selamat Datang di Blog HMJ Sosiologi FISIP Universitas Lampung

Sabtu, 22 Juni 2013

Pergeseran Nilai dari Pemakaian Jilbab/Hijab

Posted by HMJ SOSIOLOGI FISIP UNILA On 21.17 2 comments


Manusia selalu mengalami perubahan-perubahan selama hidup baik secara individu maupun secara kolektif dalam konteks kehidupan bermasyarakat. (Soekanto, 2006:259). Perubahan dalam berbagai macam sektor yang terjadi pada kelompok masyarakat disebut sebagai perubahan sosial. 
Perubahan sosial mencakup perubahan dalam berbagai sektor, salah satunya mode pakaian  (fashion). Fashion merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat di dunia, dengan berbagai macam jenis dan mode yang terus mengalami dinamika/perubahan. Mulai dari mode-mode yang berkiblat dari dunia timur sampai tren fashion yang diilhami bangsa Barat.

Mode sebagai bagian dari budaya popular, mengalami perkembangan yang cukup pesat ke seluruh dunia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain media. Salah satu bentuk mode pakaian yang tengah popular saat ini adalah  tren hijab, yang tidak hanya booming di Indonesia namun juga di seluruh dunia. Jilbab (hijab) tak hanya sekedar sebagai penutup kepala akan tetapi kini telah menjadi tren mode yang dapat dijangkau semua lapisan masyarakat.

Tidak hanya tren fashion, lahirnya komunitas dengan basis budaya, kesukuan, etnik, hingga komunitas hobi, gaya hidup, serta komunitas fashion kini menjadi marak. Salah satunya munculnya komunitas hijabers yang menunjukkan contoh adanya kecenderungan pergeseran pada masyarakat postmodern untuk membentuk  komunitas yang sesuai dengan identitas dan pilihan pribadinya.

Komunitas Hijabers adalah komunitas jilbab  kontemporer yang terdiri atas sekumpulan orang yang ingin terlihat sama dalam bergaya dan berbusana. Komunitas ini menginisiasi dan mengembangkan tren baru berkerudung bagi wanita  muslim Indonesia. Perkembangan komunitas ini begitu cepat dan menjamur di beberapa kota besar di Indonesia. Seorang muslimah yang bernama Dian pelangi menjadi ikon seorang hijabers. Seorang anggota komunitas hijabers membangun identitas baru seorang wanita muslim yang mengenakan jilbab namun tetap dapat tampil cantik, stylish, chic, modis serta masih sesuai dengan kewajiban menutup aurat bagi wanita muslim. Komunitas ini lahir dan berkembang karena ditopang oleh anggota-anggota yang memiliki interest yang sama dan identitas yang mereka yakini. Selain itu, bergaul dalam sebuah kelompok atau komunitas mempermudah manusia mengenal jati diri dan memperkuat identitas dirinya di dalam masyarakat.

Seperti yang sudah penulis uraikan diatas, kecenderungan anggota komunitas untuk membentuk pribadi secara kolektif ditujukan untuk menguatkan kepercayaan dirinya. Ini sebuah upaya defence mechanism dari anggota komunitas tersebut. Pengaruh budaya luar dan perkembangan mode dunia mempengaruhi gaya para hijabers. Dalam zaman informasi, perkembangan media massa, media elektronik dan New Media, sangat mempengaruhi perkembangan komunitas ini. Bulan Ramadhan lalu, bisa menjadi potret bagaimana media benar-benar menaikkan pamor hijabers. Tren dihubungkan dengan kebutuhan religius umat Islam pada masa itu, jadilah kebutuhan massa diakomodir oleh media. Komunitas Hijabers begitu diekspos, mulai dari kegiatan mereka, cara memakai jilbab yang trendy, sampai dengan pola pemasaran jilbab yang lagi trend dibahas  dengan begitu menarik. Kehendak media dalam mengkontruksi masyarakat memicu lahirnya tren berjilbab yang stylish. Dampaknya bisa dilihat dari menjamurnya model-model jilbab baru. Para wanita muslim turun ke etalase toko-toko untuk mencari jilbab tersebut. Bulan Ramadhan nampaknya bisa dimanfaatkan untuk strategi bisnis. Media massa memiliki peranan besar dalam perkembangan komunitas ini serta npenyebaran nilai-nilai yang dibawanya. Sisi negatifnya, Budaya konsumeristik pun tak bisa dihindari. defence mechanism defence mechanism

Berbicara tinjauan sosiologis terhadap komunitas Hijabers tak lepas dari gaya hidup dan identitas mereka di tengah masyarakat. Seperti yang saya amati komunitas hijabers ini mempunyai gaya hidup tersendiri ; cara berpakaian, penggunaan bahasa, tempat nongkrong, dan kegiatan komunitas

1. Gaya berbusana yang stylish dan  fashionable
Mereka memiliki gaya berbusana yang berbeda dengan gaya berpakaian muslimah pada umumnya. Anggota komunitas hijabers selalu menampilkan gaya  berjilbab kontemporer yang jauh dari kesan kolot, dan tidak keren. Mereka menampilkan diri mereka sebagai seorang muslimah yang berhijab atau berjilbab namun stylish dan fashionable.

2. Penggunaan Bahasa yang unik
Komunitas Hijabers menggunakan bahasa yang unik dalam berinteraksi. Penggunaan bahasa gaul dikombinasikan dengan teks Arab dan Inggris dalam komunitas Hijabers khususnya Hijabers Moeslem Makassar menjadikan ini sebagai bagian kehidupan mereka ketika berinteraksi.

3. Tempat nongkrong kelas menengah ke atas
Komunitas Hijabers menampilkan gaya hidup kelas menegah keatas yang ditandai dengan budaya nongkrong di tempat-tempat yang dianggap  “prestise” ataupun tempat yang dianggap sebagai representasi tempat gaul anak muda masa kini, seperti Pizza Hut, Mc Donalds, dan Eat&Out.

4. Kegiatan rutin untuk mempererat hubungan antar anggota
Komunitas Hijabers mengadakan kegiatan rutin seperti make-up class, fashion show jilbab, baazaar, pengajian, dll. Program besar seperti fashion show mendatangkan retail jilbab dari butik-butik ternama, Bazaar Hijab, Nonton Bareng dan Pengajian yang mensyaratkan pesertanya menyumbang sejumlah uang yang tidak sedikit.

Sebuah komunitas membutuhkan simbol. Simbol yang dapat diinterpretasikan dalam masyarakat sebagai identitas komunitas. Simbol dalam komunitas juga menyangkut masalah bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa gaul dikombinasikan dengan teks Arab dan Inggris dalam komunitas Hijabers khususnya Hijabers Moeslem Surabaya. Komunitas Hijabers ingin membangun kontruksi bahwa komunitas ini selalu mengikuti perkembangan zaman serta berbasis religiusitas.

Dr. Nur Syam (2005) dalam bukunya Bukan Dunia Berbeda, Sosiologi Komunikasi Islam menjelaskan bahwa gaya berpakaian islami pun telah memasuki paradoks globalisasi. Di satu sisi ingin seseorang ingin menampilkan gaya berpakaian Islam dengan jilbab sebagai tutup kepala, tetapi di sisi lain penonjolan ekspresi tubuh juga tetap kentara dalam hal ini keindahan oleh kasat mata. Jilbab modis yang kontemporer telah menjadi tren yang digemari kalangan perempuan hakikatnya menjadi contoh bekerjanya sistem global paradoks yang sangat menonjol.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu (Gidden, 2005) melihat kelompok kelas dapat diidentifikasi menurut tingkat mereka bervariasi dari modal budaya dan ekonomi. Ia menilai bahwa individu atau kelompok saat ini tidak lagi membedakan diri menurut faktor ekonomi saja akan tetapi juga menurut selera budaya dan perburuan kesenangan. Menurut Giddens, hal ini ada kaitannya dengan faktor-faktor budaya seperti pola gaya hidup dankonsumsi. Identitas disusun untuk tingkat yang lebih besar sekitar pilihan gaya hidup seperti cara berpakaian, yang makan, cara merawat tubuh seseorang dan tempat untuk bersantai.

Sebuah identitas hadir karena manusia butuh untuk mengkategorisasikan sesuatu. Dengan begitu, identitas sosial juga melibatkan pula ketegori dan menetapkan seseorang ke dalam struktur sosial atau wilayah sosial tertentu. Identitas lahir dari bentuk komunikasi yang komplit. Bahasa tubuh, gaya berpakaian, dan gaya hidup individu menjadi penentu lahirnya pelabelan atas suatu komunitas. Stratifikasi juga terlihat dimana gaya hidup dan pilihan-pilihan busana mencerminkan bahwa mereka berada dalam komunitas kelas atas.

Dengan adanya fenomena komunitas jilbab kontemporer, perlu dijelaskan kepada masyarakat bahwa persepsi dan pemakaian jilbab telah mengalami pergeseran (Shifting). Karena ada upaya untuk mengaktualkan identitas islam itu melalui berbagai tradisi  serta cara berpakaian, dan gaya hidup ini. Pergeseran ini terjadi karena komunitas jilbab kontemporer lebih menekan pada  komersialisasi dan entertaining semata dengan melupakan sisi religiusitas sebuah hijab
.
Berdasarkan uraian diatas menggambarkan identitas mereka yang ekslusif, konsumtif  dan  komersial.
- Identitas yang ekslusif, karena mereka memiliki  image tersendiri serta berupaya membentuk keunikan mereka dengan gaya hidup, penggunaan bahasa, tempat pilihan serta kegiatan rutin tertentu.
- Identiitas konsumtif, karena kebiasaan pilihan-pilihan tempat berkumpul serta bersantai mereka adalah tempat untuk kalangan menengah keatas yang arti tempat dimana segala barang atau makanan yang dijajakan tidaklah murah.
- Identitas komersial, dikarenakan program-program komunitas ini dianggap mengesampingkan sisi religiutas agama dengan menggelar event bergengsi fashion show untuk wanita berjilbab. Kegiatan show off  bukanlah dilandasi nilai religius. Secara ekonomi, untuk menjadi anggota yang aktif dan mengikuti program komunitas Hijabers tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


Kesimpulan :

Pergeseran nilai pemakaian jilbab masa kini telah bergeser dari sebuah manifestasi perilaku menjalankan tuntunan agama menuju mode atau fashion. Dalam kaitannya dengan budaya populer dan industri budaya, penulis menilai terjadi sebuah pergeseran (shifting) dalam pemberlakuan nilai-nilai agama Islam masa kini terutama dalam perkembangan komunitas Hijabers.

Melihat fenomena komunitas jilbab kontemporer, perlu dijelaskan kepada masyarakat bahwa persepsi dan pemakaian jilbab telah mengalami pergeseran (Shifting). Karena ada upaya untuk mengaktualkan identitas islam itu melalui berbagai  tradisi seperti cara berpakaian, penggunaan bahasa dan gaya hidup. Pergeseran ini terjadi karena komunitas jilbab kontemporer lebih menekan pada komersialisasi dan entertaining semata dengan melupakan sisi religiusitas sebuah hijab

Postmodernisme menguraikan lahirnya suatu tatanan sosial baru dimana kekuatan media massa dan budaya populer kesemuanya mengatur dan membentuk segala macam hubungan sosial. Media mengontruksikan rasa kita akan realitas sosial, maupun rasa kita sebagai bagian dari ini. Lahirnya media massa modern seiring semakin meningkatnya komersialisasi budaya dan hiburan telah menimbulkan berbagai permasalahan, kepentingan, sekaligus perdebatan.

Dalam hubungan era komunikasi massa modern serta kaitannya dengan budaya populer, atas kehendak media pula gaya hijabers ini menjadi gaya nasional masa kini yang kemudian fenomena ini disebut budaya popular untuk fashion. Budaya pop untuk pakaian perempuan berjilbab yang dibawa oleh Hijabers dan digemborkan oleh media massa tentunya memberikan pergeseran makna akan bagaimana gaya busana muslimah atau perempuan berjilbab dahulu dan kini.

Masyarakat postmodern mencari sendiri kebenaran mereka dan mendasari pilihan mereka atas dasar (the ethic of desire) dan mereka beragama atas dasar sebuah pilihan mana ajaran yang mendatangkan perasaan nyaman dan kepuasan psikologis.

Hal ini kemudian menurut penulis menjadi dasar mengapa mudah sekali terjadi pergeseran nilai dan pemaknaan religiusitas dalam Hijab. Dalam perkembangannya, komunitas Hijabers banyak berkembang di wilayah kota besar yang metropolis dan  telah dapat dikategorikan sebagai masyarakat postmodern dengan segala ciri dan pertanda yang sudah penulis paparkan. Sehingga penulis mangajukan tesis bahwa perkembangan komunitas Hijabers juga berkaitan erat secara psikokultural dengan perkembangan masyarakat yang mengarah pada masyarakat postmmodern dan spiritualitas postmodern ini yang menjadi dasar kuat apa yang mereka lakukan.

Pergeseran esensi dalam berhijab, kemudian, bagaimana tinjuan  sosiologis komunitas hijabers dari gaya hidup dan identitasnya ditengah masyarakat serta peran spritualitas postmodern yang menjadi kekuatan personal dalam perkembangan fenomena komunitas Hijabers, penulis semakin yakin dalam konteks interdisiplin ilmu framework kajian budaya, konteks perubahan sosial, infomation age, hubungan industri budaya kapitalis, budaya populer, konsumerime dan masyarakat postmodernisme secara bersama-sama saling menguatkan satu sama lain melanggengkan perkembangan fenomena komunitas Hijabers. Dengan adanya media massa, sosial media, serta ikon tokoh hijabers seperti Dian Pelangi dkk serta myth seorang wanita muslim yang tetap menutup aurat namun stylish dan fashionable menjadi faktor yang saling menguatkan satu sama lain. Pergeseran nilai religiusitas, pertarungan makna, serta budaya konsumtif menjadi konsekuensi hal ini.

Sumber :

[1] http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2184397-pengertian-hijab-dan-keutamaannya/#ixzz2BUiIQVz5 diunduh 25 November/15:00
[2] Prasetia, Heru. "Pakaian, Gaya, dan Identitas Perempuan Islam". Identitas Perempuan Indonesia: Status, Pergeseran Relasi Gender, dan Perjuangan Ekonomi Politik. Desantara Foundation. Depok. November 2010.
[3] http://terserahgwlaah.blogspot.com/2012/04/definisi-jilbab-kerudung-hijab-purdah.html diunduh 25 November/15:18
[4] Ibid.
[5] http://sosbud.kompasiana.com/2012/05/28/kisah-selembar-jilbab/ diunduh pada tanggal 25 November 2012/ 15:42.
[6] http://Kompasiana.com/sejarah-hijab/ diunduh tanggal 25 November 2012/ 15:30
[7] http://gratisanlounge.blogspot.com/2010/12/sejarah-jilbab-di-berbagai-negara-dan.html diunduh 26 November 2012/ 12:00
[8] http://www.agatossi.com/2012/09/hijabers-community-komunitas-hijaber.html diunduh tgl. 07.12.2012/14:45
[9] http://mimialysa.blogspot.com/2010/12/beauty-in-faith-hijabers-community.html diunduh tgl. 07.12.2012/ 15:09

2 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus
  • Youtube